(SMKNH) Kebingungan
sistem pendidikan nasional telah melahirkan ketidakmapanan output
pendidikan baik di jenjang terendah hingga jenjang tertinggi. Generasi
yang dihasilkan tidak memiliki kematangan dan kemandirian. Bahkan
generasi tersebut sangat lemah baik secara akhlaq, akal, kepribadian,
etos kerja dan upaya pembaharuan (ijtihad). Karena itu sosok generasi
yang muncul adalah generasi bandel, demoralisasi, korupsi, penipu,
manipulasi, konsumtif, materialis dan tidak memilki kemandirian. Hal ini
sangat berbeda dengan genersai yang dididik mengikuti tahaban dan
metode tarbiyah Islam.
Sosok generasi yang dihasilkan tahabapn
dan metode tarbiyah Islam adalah generasi yang kuat dan amanat (al
qowiyyul amin). Sosok generasi ini pernah terbentuk di zaman Rosululloh
Sholallah Alaihi Wassalam dan para sahabatnya. Mereka sangat kuat dalam
mengemban tugas-tugas agama, berdakwah beramar ma’ruf dan bernahi
munkar. Generasi yang kuat termasuk di dalamnya adalah tahan bantingan
menghadapi ujian kehidupan, dan tidak mudah putus asa. Generasi amanah
adalah yang dapat dipercaya baik sikap, ucapan, maupun suluknya. Bila
mereka menerima tugas dakwah, tugas itu akan dilaksanakan sampai
sempurna dengan penuh tanggung jawab.
Amanah sebagai bagian asas
pendidikan Islam, karena melalui proses amanah akan terbentuk generasi
yang berbudi pekerti luhur, yang mampu mengemban segala beban yang
dipikulnya. Amanah merupakan sikap internal yang menunjukkan intregrasi
kepribadian sehingga generasi amanah menjadi pribadi utuh, penuh
tanggung jawab, dan dapat mengembangkan dirinya untuk kehidupan orang
lain.
Islam tidak menghendaki umatnya
menjadi umat yang lemah. Bahkan, Al Qur’an sejak lama telah memberikan
warning (peringatan) kepada kaum muslimin agar tidak meninggalkan sosok
generasi yang lemah. Alloh berfirman dalam surat An Nisa’: 9
“Dan
hendaklah takut kepada Alloh (cemas) orang-orang yang seandainya
meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka
khawatir (terhadap kesejahteraan mereka). Oleh karena itu, hendaklah
mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan
yang benar.”
Kuat lemahnya suatu generasi ternyata banyak
ditentukan oleh faktor pendidikan. Pendidikan yang baik, yang dikelola
secara benar akan mampu melahirkan generasi pilihan, generasi unggul,
generasi yang cerdas secara intelektual juga generasi yang berakhlak
mulia. Islam sangat memperhatikan masalah pendidikan. Islam sejak lama
mewajibkan umatnya untuk giat mencari ilmu sebagaimana hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abdil Barr:
“Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.”Islam
adalah agama yang sempurna, yang mengatur segala sesuatu dari masalah
yang paling kecil sampai masalah yang paling besar, dari masalah yang
paling remeh sampai masalah yang paling berat, tidak terkecuali masalah
ilmu. Alangkah indahnya pandangan Islam tentang ilmu yang dengan
pandangan brilian itu mampu mencetak generasi berilmu tinggi, generasi
peletak dasar-dasar ilmu modern sekarang ini.
Korelasi (hubungan)
antara konsep ilmu dalam Islam dan generasi yang dihasilkan dapat
diumpamakan seperti segitiga. Dua garis vertikal bertemu dalam satu
titik, titik Allah SWT. Sementara garis horizontal yang menghubungkan
kedua garis vertikal tadi menunjukkan generasi yang beremosi stabil,
rendah hati, tidak sombong. Ibarat ilmu padi, semakin berisi semakin
merunduk. Hal ini didasari oleh kesadaran bahwa amatlah terbatas ilmu
Allah yang berhasil dikuasai manusia, dan teramat banyak ilmu Allah yang
belum dikuasai manusia. Masih banyak hal di alam ini yang masih
misterius yang belum mampu diungkap oleh keterbatasan manusia. Inilah
generasi dambaan umat. Dari tipe generasi ini umat Islam akan kembali
mendapatkan predikat khairu ummah dari Allah SWT.
Semua Ilmu dari Allah SWT
Ilmu
pengetahuan yang dikuasai manusia semuanya dari Allah SWT, bersumber
dari Dzat yang satu. Allah adalah guru manusia. Dia mengajarkan apa saja
yang tidak diketahui manusia. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah:
31
“Dan Dia (Allah) mengajarkan
kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya
kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkankah kepada-Ku nama-nama
benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”
Dari
ayat ini, semestinya harus mulai dihilangkan paradigma yang membagi ilmu
menjadi dua dikotomi, yaitu ilmu umum dan ilmu agama. Pembagian itu
mengesankan bahwa ilmu umum itu tidak bernilai relegi/agama. Padahal,
semua ilmu itu diajarkan oleh Allah. Semestinya segala yang dikuasai
manusia akhirnya harus sampai pada kesimpulan bahwa Allah berada di
balik semua ilmu. Bukankah ilmu itu awalnya dari sebuah pengamatan
terhadap gejala-gejala alam/ayat-ayat kauniyah/sunnatullah. Dari situ
manusia mulai memformulasikan teori-teori yang akhirnya terdokumentasi
menjadi ilmu pengetahuan. Jadi, tidak ada ilmu yang bebas dari
nilai-nilai ketuhanan/keagamaan.
Setiap muslim harus berupaya
sekuat tenaga untuk menyerap ilmu sebanyak-banyak dengan segala jenisnya
tanpa terpengaruh adanya dua dikotomi di atas. Generasi Islam di abad
pertengahan tercatat dalam sejarah sebagai peletak dasar segala ilmu
modern sekarang ini. Kita harus mencontoh jejak-jejak emas mereka.
Penemuan mereka terbukti telah mendatangkan banyak kemaslahatan umat
sekarang ini. Bukankah ini sebagai amal jariahnya yang pahalanya tidak
terputus?
Islam menyebut tiga ilmu pokok yang harus dikuasi
manusia/umat Islam, yaitu ayatul muhkamat (ilmu Al Qur’an), sunnah rasul
(ilmu hadits), dan faroidl (ilmu waris). Selain ketiga ilmu itu, maka
termasuk kelebihan (fadhlun). Banyak sekali ilmu-ilmu yang termasuk
kelebihan tersebut. Dalam kaitan ini, umat Islam harus selektif dalam
mempelajarinya sebab ilmu-ilmu kelebihan tersebut bisa mengantarkan
manusia ke arah kebaikan, juga bisa mengantarkan manusia ke arah
kejahatan, orang menyebutnya sebagai ilmu hitam, ilmu yang dapat
mencelakakan orang lain dan dirinya sendiri.
Pengajaran ilmu pokok
tersebut sebaiknya dimulai dari usia dini dalam pendidikan prasekolah
(PG/TK). Lalu dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Menurut
penelitian ditemukan bahwa perkembangan otak manusia itu 80 % terjadi
dalam usia 0 – 8 tahun, sedang yang 20 % berkembang di atas usia
tersebut Semakin dini mengenalkan tiga ilmu pokok tersebut akan
menghasil kualitas lulusan yang lebih baik.
Bacalah ilmu dengan bismillah
Allah berfirman dalam surat Al Alaq:1
“Bacalah dengan menyebut asma tuhanmu yang menciptakan!”
Dalam
membaca ayat-ayat qouliyah maupun ayat-ayat kauniyah jangan sampai lupa
menyebut nama Allah SWT. Apapun yang kita baca hendaknya selalu
menghadirkan Allah di dalamnya. Allah yang berfirman dalam ayat-ayat
qouliyah, juga Allah yang menciptakan ayat-ayat kauniyah. Membaca
bismillah berarti mengharapkan bantuan Allah untuk memahami bahan
bacaan. Membaca bismillah berarti membuka tabir keberkahan ilmu
pengetahuan. Membaca bismillah seolah-olah kita minta izin pada Allah
sebagai pemilik segala ilmu pengetahuan. Dengan bismillah akan
mengantarkan manusia ke puncak pengetahuan tentang Allah.
Memasuki
konsep ini harus menjadikan keterikatan pada pencipta ilmu. Ketika
berada dalam ilmu yang dapat dikembangkan melalui metodologi penelitian,
maka harus tetap mengembalikan kekuasaan tertinggi pada Allah Ta’ala.
Dan di setiap mengembangkan ilmu harus dilandasi dengan penyebutan
kekuasaan Allah Ta’ala. Akhirnya ilmu yang digeluti akan menghantarkan
kepada kesempurnaan keimanan seseorang.(Abina Ihya' Ulumiddin)